HABARPAM.COM, BANJARMASIN – Dalam rangka menjaga kehandalan pelayanan saat krisis air pada musim kemarau 2026, PT Air Minum (PAM) Bandarmasin kembali menetapkan jadwal piket untuk pejabat strukturalnya. Piket berlangsung pada Jumat, Sabtu dan Minggu.
Oleh Direktur Utama PAM Bandarmasih Zulbadi, jadwal piket tahap dua mulai diberlakukan pada Minggu 11 Oktober 2026 hingga Minggu 1 November 2026. Setiap hari piket disiagakan lima orang dan dikomandani seorang manajer. Total ada 10 tim piket yang dibentuk manajemen
“Setiap tim ada bertugas di bagian tangki kilometer enam, ada yang di customer service, Posko Gangguan Air Minum (GAM) 1 dan Posko GAM 2,” papar Supervisor Humas Murjani SE.
Perpanjangan jadwal piket pejabat struktural ini dirasa sangat perlu karena krisis air baku akibat instrusi air laut masih berlangsung. Akibatnya proses produksi dan distribusi air bersih masih akan terganggu. Oleh karena itu segala kendala harus segera ditangani dan carikan solusinya oleh pimpinan.
Direksi mulai menerapkan jadwal piket pejabat struktural tahap pertama pada awal November 2026. Hal ini agar pelayanan terhadap pelanggan seoptimal mungkin termasuk saat hari libur. Zulbadi ingin pejabat struktural juga siap siaga menangani persoalan yang muncul dan dikeluhkan masyarakat pelanggan.
Menurut Zulbadi, langkah ini merupakan bentuk komitmen PAM Bandarmasih untuk menjaga pelayanan kepada pelanggan, terutama di tengah kondisi krisis air baku akibat kemarau.
Sementara ini Prakirawan Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Hendri Herdian, memprediksi musim hujan di Kalimantan Selatan mulai berlangsung secara bertahap pada November 2026. Berdasarkan prakiraan, wilayah utara Kalsel lebih dahulu memasuki musim hujan, meliputi Kabupaten Tabalong, Balangan, dan Hulu Sungai Tengah. Selanjutnya, hujan diperkirakan meluas secara bertahap ke wilayah selatan, termasuk Banjarbaru, Banjarmasin, hingga Kabupaten Tanah Laut.
Mundurnya awal musim hujan, menurut Hendri, berkaitan dengan kondisi iklim yang masih dipengaruhi fenomena El Nino serta angin monsun timur atau monsun Australia. Pengaruh kedua faktor tersebut membuat sejumlah wilayah berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang sebelum memasuki periode penghujan. (*)