Connect with us

News

Anggota Archery Bandarmasih Club Tetap Semangat Tingkatkan Skill Panahan ditengah Keterbatasan

Published

on

HABARPDAM.COM, BANJARMASIN – Archery Bandarmasih Club yang dinaungi oleh PDAM Bandarmasih dengan keterbatasannya tidak menghalangi untuk mengajak dan melatih para anggotanya untuk terus mengasah skill yang dimiliki.

Archery Club PDAM Bandarmasih ini memang masih tergolong baru, didirikan tepat bersamaan dengan HUT perusahaan di tahun 2019, kini usianya hampir mencapai tahun ketiga.

Untuk kegiatannya sendiri, rutin diadakan latihan setiap hari Sabtu. Archery club membangun lapangan latihan mereka sendiri di IPA 2 Pramuka yang diresmikan bersamaan dengan HUT PDAM Bandarmasih pada 2019.

“Memanfaatkan lahan yang ada, tapi memang kami masih mencari lokasi yang benar-benar aman dan nyaman untuk digunakan dalam latihan,” terang Koordinator Archery Bandarmasih Club Isra Wahyudi ST.

Klub ini memiliki 56 orang yang tercatat sebagai anggota, namun hanya sekitar 10 orang yang aktif. Hal ini disebutkan Isra disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya harga peralatan yang cukup mahal.

Isra menjelaskan dalam panahan memang yang paling sering menjadi kendala ialah harga peralatan, apabila mengikuti standar WA (World Archery Federation) yang mana semua barang import, costnya otomatis cukup tinggi.

“Sekitar 30 sampai 80 juta,” ujarnya.

Namun, untuk klub ini sendiri, panahan dianggap sebagai olahraga rekreasi, sehingga mereka berusaha untuk terus improvisasi, mencoba menekan cost peralatan dengan mencari peralatan yang harganya seperempat harga peralatan standar WA, namun tentu saja bahan dan kualitas alat dipilih dengan teliti.

“Jadi kami lebih mengarahkan ke skill dan teknik, memang lebih berat karena tentu kalau makai alat yang sesuai standar olympic maka skill yang diasah pasti akan sedikit berbeda ya,” jelasnya.

Menurutnya memang kini sudah mulai bermunculan produk panahan milik lokal, namun yang mengikuti standar olympic WA masih belum ada, cenderung lebih ke arah tradisional.

Karena klub dibawah naungan perusahaan, tentu mereka mendapatkan bantuan, namun Isra menjelaskan kebutuhan operasional dalam panahan cukup banyak sehingga dana dialokasikan ke sana.

“Kaya bantalan kan itu lumayan juga, operasional di lapangan da lain-lain cukup banyak jadi kita arahkan ke situ, sementara ini untuk peralatan relatif masih pribadi,” jelasnya.

Sementara peralatan masih milik pribadi, ketika ada yang memiliki alat lebih maka diarahkan untuk dipinjamkan ke yang lainnya, didukung agar latihan dapat terus dilakukan walaupun belum memiliki alat sendiri.

“Latihan terus, nanti ada rejekinya baru mulai membeli alat,” ucapnya.

Ia menjelaskan memang dalam panahan kendalanya relatif berputar di masalah dana. Munculnya kelas barebow, yang bisa dikatakan mirip panahan tradisional namun menggunakan peralatan panah yang modern tanpa alat bantu. Sehingga dalam divisi ini mengedepankan skill atlitnya.

“Kalau di panahan itu yang dibutuhkan akurasi, ketelitian, kesabaran. Yang paling utama harus di ulang,” ujarnya.

Aiming, Shooting, Repeat.

Isra juga menjelaskan sementara ini mereka memang fokuskan membantu anggota yang memulai dari awal, saling meminjamkan peralatan yang dibutuhkan.

Kendala-kendala yang dihadapi Archery Bandarmasih Club ini memang cukup sulit, selain keterbatasan alat kesibukan di pekerjaan juga menjadi salah satu alasan.

“Karena kan memang klub ini semi rekreasi,” ucapnya.

Walaupun semi rekreasi, bibit-bibit unggul yang ada pun diarahkan dengan serius ke arah prestasi, intensif melatih secara teknik dengan metode pelatihan yang agak sedikit berbeda.

“Berbeda metode pelatihan kita walaupun agak santai ya, jadi paling ngga ada peningkatan lah teman-teman untuk mengejar akurasi lebih cepat,” pungkasnya. (ltf)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *