Connect with us

Layanan

Proses Pengolahan Air di PDAM Tidak Simsalabim, Begini Prosesnya

Published

on

HABARPDAM.COM. BANJARMASIN – Proses pengolahan air bersih oleh PDAM Bandarmasih Kota Banjarmasin melalui beberapa tahapan, ini demi kehiginiesin dan kenyamanan pelanggan itu sendiri.

Banyak proses yang harus dilalui sebelum air bersih dapat mengalir ke kran pelanggan.

Perusahaan air minum itu bukan semata mengalirkan air ke rumah masyarakat, sehingga ketika terjadi pengurangan debit atau bahkan kemacetan air, banyak masyarakat yang bersuara lantang menuntut PDAM Bandarmasih untuk bekerja dengan benar.

Supervisor IPA (Instalasi Pengolahan Air) 1, Rusdiansyah menjelaskan proses pengolahan air dimulai dengan pengambilan air baku. Setelah itu akan dipompakan ke penerjunan yang mana terjadi proses pembubuhan bahan kimia untuk penjernihan air dan berlangsung proses koagulasi. Setelah proses koagulasi selesai maka dimasukkan ke kulsator untuk sedimentasi atau pengendapan.

“Jadi kotoran atau lumpurnya berada di bawah,” katanya.

Air yang bening akan diambil dan diteruskan ke bagian filter yang berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran yang masih tersisa dari proses pengendapan. Setelah itu, akan ditambahkan bahan kimia untuk membunuh mikro-organisme yang bersifat merugikan atau biasa disebut senagai disinfektasi.

Setelah selesaj, maka air akan disimpan dalam reservoir. Untuk IPA 1 sendiri memiliki lima reservoir bundar dengan kapasitas 300 meter kubik, dan juga reservoir besar KUDP dengan kapasitas 3500 meter kubik.

“Sehingga disini kami punya penyimpanan mencapai 5000 meter kubik. Baru setelah itu didistribusikan kepada pelanggan,” Imbuh Supervisor Laboratorium IPA 1, Mila.

Mila menjelaskan, dalam keadaan pasca banjir mereka menghadapi kendala kesulitan mengolah air baku yang keruh, tingkat warna tinggi namun durabilitynya rendah. Maka ketika diproses masih menghasilkan warna walaupun masih sesuai dengan standar pendistribusikan.

Untuk mengantisipasi hal ini, mereka menambahkan bahan kimia yang berfungsi untuk memecahkan warna pada air baku.

“Dengan harapan supaya yang ada warna kuning bisa pecah dan kembali normal hasil pengolahan kita,” ujarnya.

Mila menyampaikan bahwa pada pelaksanaan di lapangan mereka memang cukup banyak menemui kendala. Salah satu yang cukup sering dihadapi ialah masalah air baku.

Karena air baku diambil dari permukaan sungai, maka kualitasnya sangat bergantung pada cuaca atau musim. Ia mencontohkan misalnya ketika kemarau, maka air cenderung kemasukan air laut sehingga akan berasa payau. Hal tersebut menjadi masaah karena air dengan tingkat keasinan tinggi atau 250 mg/liter tidak bisa diolah berdasarkan permenkes.

“Untuk hal ini, kita siasati dengan meminta bantuan air baku dari IPA 2, karena lokasi pengambilan air baku tiap IPA berbeda-beda,” ucapnya.

Peralihan kemarau ke musim hujan, disampaikan Mila akan mempengaruhi air baku menjadi asam, pH rendah sehingga air baku juga cukup sulit diolah, akhirnya disiasati dengan penambahan bahan kimia untuk menaikkan pH. Lalu ketika musim hujan, di air baku banyak terdapat sampah-sampah dikarenakan air yang berasal dari hulu dan tingkat kekeruhannya yang tinggi, sehingga harus ada penambahan bahan kimia lagi yakni, pac powder.

Dalam hal kualitas air baku, kontur tanah juga mempengaruhi. Banjarmasin memiliki lahan gambut, yang mana banyak mengandung asam. Ketika bercampur dengan badan air, maka kualitas akan berubah, ia akan mengikuti sifat air gambut yang berwarna kuning.

Memang proses hingga air sampai pada kran di rumah pelanggan ini tidaklah mudah, Mila pun menyampaikan perihal hal tersebut pun masyarakat masih banyak yang belum mengetahui serta paham perihal kualitas air baku yang tentu sangat berpengaruh pada pengolahannya.

Setelah pengolahan selesai pun belum berarti prosesnya terhenti di sana. Pengolahan air ini menghasilkan lumpur endapan yang masih mengandung air sekitar 40 persen hingga 50 persen.

Mila menjelaskan, PDAM Bandarmasih juga memiliki pengolahan lumpur. Pertama ada thickener, untuk menghasilkan air bersih dari lumpur maka akan ditambahkan bahan kimia polymer. Yang kedua ada filter press, sisa lumpur yang pekat akan ditekan untuk menghasilkan air bersih dengan lumpur yang agak kering, lumpurnya akan di bawa ke IPA 2.

Lumpur itu mereka manfaatkan semaksimal mungkin, tidak ada yang terbuang. Tahun lalu PDAM Bandarmasih bekerja sama dengan ULM Fakultas Pertanian Ilmu Tanah, pihak universitas melakukan penelitian terhadap potensi lumpur perusahaan air minum ini.

“Jadi memang bisa dimanfaatkan, ditambahkan sedikit bahan kimia maka bisa menjadi penyubur tanaman. Lalu itu akan diteliti lebih lanjut mengenai komposisi dan sebagainya,” jelasnya.

Pihaknya juga menghindari penyebutan limbah dan lebih memilih menamainya dengan lumpur cair, karena limbah dirasa di masyarakat identik dengan bahan berbahaya, padahal ini hanya lumpur hasil pengolahan, sama seperti lumpur biasa.

Mila berharap masyarakat akan lebih membuka diri terhadap informasi dari PDAM Bandarmasih, bahwa sebenarnya pengolahan air tidak sederhana dan memerlukan proses yang cukup panjang. Tenaga yang dikeluarkan pun banyak dan biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit.

“Semoga masyarakat akan lebih memahami bahwa internal perusahaan pun menghadapi kendala yang cukup banyak untuk menghasilkan air yang bening ini, namun tentu saja ini memang sebuah kewajiban dan akan terus kami upayakan semaksimal mungkin,” tandasnya. (ltf)